Senin, 31 Mei 2010

Surat Bangunrejo

Semenjak bapak dan ibu bercerai, kini aku hidup terpisah dengan adikku, Ajeng. Teringat akan amarah ibu yang keluar kalau makanku tak habis, dan selalu bapak yang membela ku. Kini aku tinggal di Jakarta bersama bapak. Ya aku merindukan mereka. Aku ingin segera menerima surat kelulusanku, lalu bekerja dan hidup mandiri. Aku tidak ingin memihak antara bapak atau ibu.

”Lik, kok termenung? Sudah ndak usah terlalu dipikirkan. Bapak yakin, kamu pasti lulus,” tangan bapak menyentuh pundakku seakan membaca pikiranku. Senyumnya bijak.

Bapak lalu beranjak pergi ke tempat kerjanya. Walau sudah sepuh, namun semangat mengajarnya masih kuat. Bapak memang sosok orang yang patut ditiru, tidak hanya kebijaksanaannya, namun semangat kerja kerasnya. Selang beberapa menit bapak berangkat kerja, terdengar dering sepeda. Kendengarannya sangat khas.

”Permisi, Pak! Ada surat,” teriak seorang tukang pos yang terlihat lebih muda dari ku.

Aku sangat antusias menerima surat itu, ingin aku melompat, teriak kegirangan seperti anak kecil jika isinya memberitahukan kalau aku dinyatakan LULUS dan akan berwisuda. Kupandangi amplop putih persegi panjang ini, dituliskan huruf dengan spidol di atasnya. Dengan spidol ?

”Jalan Bangunrejo, enam nol satu tujuh sembilan,” tanpa sadar aku kubaca kode posnya dengan suara. Sepertinya aku tau kode ini, sayang tepat di bagian daerahnya luntur terkena air.

Ytc. Bapak dan Mas Gustav
Bagaimana kabar kalian di Jakarta ?
Kota seribu mimpi, kalian pasti senang tinggal di sana. Dan mungkin sudah lupa dengan kami. Mas Gustav, ibu sepertinya sangat merindukanmu. Ia tiada henti memanggil namamu, seakan Mas mendengarnya. Mungkin dengan kedatangan kalian, kondisi ibu akan pulih kembali. Dokter bilang Ibu terkena stroke ringan. Bangunrejo tak akan segan-segan membuka pintu untuk menyambut kedatangan kalian.
Ajeng.
Sebulir benda bening melewati pipiku. Basah. Dengan segera aku menelepon bapak. Aku menarik nafas dalam, menahan tangis, aku tidak ingin terdengar cengeng oleh bapak.

”Lik, Bapak masih mengawas ujian. Kita bicarakan di Dapur Nusantara saja ya?” Bapak langsung mematikan panggilan ku. Bahkan aku belum sempat bicara apa pun.

Siang itu aku temui Bapak yang duduk di pojok memandangi jendela. Parasnya lelah. Tatapannya pun kosong. Entah apa yang ada di benaknya.
”Pak, kita dapat surat” sapaku sambil menyodorkan amplop putih itu.
”Besok hari terakhir Bapak mengawas ujian kan? Bagaimana kalau kita berlibur ke Bagunrejo?” Aku mencoba menjelaskan. Bola mata bapak bergerak perlahan menyapu kata demi kata dalam surat itu. Dahinya mengerenyit. Sekejap mukanya menjadi merah, marah ?

”Tidak, Gustav! Bapak sangat sibuk! Toh, kamu juga masih harus mengurus surat kelulusanmu itu..!! ” Bentak bapak menggeretak tangannya ke meja kayu ini. Semua mata di restoran ini tertuju pada bapak. Darahku seperti berhenti mengalir. Senyumku kaku.
”Ya sudah. Sudah !! Kalau Bapak lebih cinta dengan pekerjaan Bapak, kerja saja..! Gustav tidak peduli. Bagaimana pun kondisi ibu lebih penting!!” Aku terbawa emosi, jantungku berdegup sangat kencang hingga menggetarkan kerah bajuku.
Kurebut surat itu dari kepalan tangan bapak yang menekan meja keras, lalu aku pergi meninggalkan Dapur Nusantara dengan perasaan kacau.

Aku galau, dengan apa aku bisa pergi ke Surabaya untuk menjenguk ibu? Sekejap bayang muka pakde menutupi pandanganku. Ya, pakde bekerja pada sebuah perusahaan kapal laut. Mungkin ia bisa membantuku.

”Halo, Pakde. Apa kabar? Ini Gustav, Pakde”
“Nak Gustav?! Alhamdulillah, Pakde baik-baik saja. Ada apa toh, Nak?”
”Gini Pakde, Gustav baru saja mendapat pekerjaan dan akan berlangsung di Surabaya. Tapi Gustav bingung mengenai transport. Pakde ada saran ?” Terpaksa aku berbohong pada pakde. Tapi biarlah, aku tidak dapat membayangkan jika pakde mengetahui hal yang sebenarnya dan menceritakannya pada bapak. Akhirnya, atas bantuan pakde, aku akan berangkat ke Surabaya esok subuh.

Aku kemas barang-barangku, hanya tiga helai sandang, dan sedikit perbekalan. Malam itu juga aku diam-diam berangkat ke Tanjung Priok. Lebih baik aku bermalam kedinginan di pelabuhan daripada harus tertinggal kapal. Ingin sekali aku meminta restu bapak atas perjalananku. Semalaman aku tidak bisa tidur memikirkannya, padahal aku harus menjaga kondisi tubuh agar tetap sehat. Besok aku akan mengalami perjalanan panjang. Aku merebahkan tubuh di atas kursi, dan merapatkan jaket ini erat. Pelabuhan ini ternyata tampak tak bersahaja di malam hari.

”Naikkan muatan!!” Teriak seorang awak kapal yang menyadarkan tidur lelapku.

Dengan perlahan aku bangkit dari posisi tidurku, dan mengangkat backpack ku untuk memasuki kapal. Aku memilih tempat duduk yang dekat dengan jendela, dan menjauhi arah angin datang. Rasanya badanku mulai tidak enak setelah bermalam di pelabuhan. Aku menyandarkan kepala ke jendela, dan sesaat kusapu bagian dalam kapal ini dengan mataku. Sangat padat, bahkan aku hampir sulit bernafas. Di depanku duduk pasangan muda dengan balitanya, mereka terlihat harmonis. Di sampingku, seorang ibu hamil yang tertidur lelap. Namun, menjelang keberangkatan kapal, balita yang duduk di depanku mendadak menangis kencang. Suara tangisnya sangat mengganggu. Akhirnya aku pergi menuju bagian belakang kapal untuk menghirup udara segar.

Kupandang langit bisu, dan tampak segerombolan burung membentuk huruf V terbang menjauhi laut. Mataharipun tampak tak bersahaja. Aku menelan ludah, cuaca sedang tidak bersahabat. Mengapa perasaanku menjadi tidak enak begini? Apa karena aku masuk angin setelah bermalam di pelabuhan.

”Hey, ke mana arah burung itu pergi?” Tanya seorang penumpang kepada awak kapal.
”Mm... Menjauhi laut? Apaa?!” Awak kapal panik, ia melempar teropongnya dan lari menuju ruangan kapten.

Aku merasa penasaran, diam-diam aku mengikuti awak kapal itu. Tapi kepalaku terasa sangat pusing, rasanya kapal ini berputar. Apa cuma persaanku saja? Aku berusaha menguping pembicaraan kapten dan anak buahnya itu.

”Kapten! Gawat! Kondisi cuaca sangat tidak mendukung. Apa sebaiknya kita tunda dulu perjalanan ini?”
”Kurasa idemu lebih buruk dari cuaca pagi ini. Lihat, langitnya cerah! Apa yang kau khawatirkan? Bagaimana nasib selundupan emas kita, jika kita berhenti di suatu tempat? Sama saja dengan bunuh diri! Tolol..”
Kaget mendengarnya, tanpa berpikir panjang aku berlari masuk ke dalam ruangan kapal.

”Semua penumpang!! Kondisi cuaca sangat buruk di luar. Segeralah kalian selamatkan diri kalian masing-masing!!” Nafasku tersengal-sengal, namun tak seorangpun menghiraukanku.
”Hei, Anak muda ! Bicara apa kau? Hari ini cerah..” Kapten menyahut dengan muka dongkol, sambil menghisap cerutunya.

”Aaargh.. Toloong..” Tak lama, terdengar suara lirih dari arah dek kapal. Semua arus listrik medadak terputus. Ruangan ini menjadi gelap. Suara ombak di luar terdengar tak bersahaja. Aku berusaha mencari jalan keluar agar tidak terperangkap dalam ruangan ini. Namun sepertinya kapal ini kehilangan keseimbangannya, semua barang bergerak ke arahku. Lantai kapal menjadi basah dan licin, tersiram ombak yang menyusup masuk. Di luar kapal, kulihat ombak besar berterbangan. Aku menyandarkan tubuhku dan berpegangan erat pada sisi kapal. Ibu hamil yang duduk di depanku tadi ternyata mengikuti ku, ia memegang lenganku erat. Posisi kapal semakin mengerikan, berputar sembilan puluh derajat. Ibu hamil itu terjatuh dan merosot menuju laut. Walau sempat bermaksud menahannya, namun tanganku tak sampai untuk meraih tubuhnya yang berpegangan erat di kakiku.

Aku berusaha menahan posisi tubuhku pada sisi kapal yang sekarang menjadi bagian teratas. Semua penumpang berjatuhan dari kapal. Berteriak histeris, menangis, bahkan ada anak yang terpisah dengan ibunya untuk menyelamatkan diri masing-masing. Entah apakah ini kiamat. Terlintas muka bapak di pikiranku. Apakah ini terjadi atas murka bapak terhadapku? Bahkan ketika pergi aku belum meminta izin darinya. Tapi aku tak memperdulikannya. Jika aku ingat akan amarahnya siang kemarin, mungkin itu mengapa bapak dan ibu bercerai. Peganganku semakin melemah, dan tubuhku terasa ringan. Aaahh..

”Haalo.. Halo.. Lo.. Lo..” Suara menggema dari seorang pria sambil meniup peluitnya.
”Apa masih ada orang di sana.. di sana.. sana.. na..??”
Tubuhku ini terasa berat untuk digerakkan, dengan susah payah aku mangayuhkan kakiku menuju asal suara. Sesaat aku menyapu sekeliling, banyak barang dan kayu mengapung.
”Paak..” Gumamku lirih, nyaris tak terdengar. Sambil melambaik-lambaikan tangan untuk menyadarkan mereka.

”Hey, ada orang di sebelah sana!” Suara seorang wanita yang tersadar akan aba-abaku.
”Ayo bantu naikkan dia ke atas perahu.” Pria yang memegang peluit meraih tanganku.
Tubuhku terkulai lemas di atas perahu, aku berusaha menyeimbangkan kondisi tubuhku. Seorang bapak menyodorkan handuk kepadaku.
”Saya Indra, salam kenal.” Bapak itu tersenyum ramah padaku.
”Gustav, senang bertemu dengan anda.” Jawabku senang, sambil menerima handuk yang ia sodorkan.
”Kurasa tidak ada orang lagi, ayo kita lanjutkan perjalanan.” Kata pria berpeluit itu.
”Hey, selamat datang di perahu kami. Kamu sangat beruntung masih dapat terselamatkan dari musibah kemarin hari. Namaku Dimas, awak kapal yang kau kupingi kemarin. Ha ha..” Aku ingat mukanya. Iya dia awak yang berteriak kepada kapten untuk menunda perjalanan.
”Ya, haha.. Aku Gustav, senang dapat bertemu denganmu lagi,” jawabku tertawa kecil.
Laut Jawa ini sangat luas dari yang kubayangkan. Sudah genap seminggu kami terapung-apung di atasnya. Beruntungnya, jatah kue yang kami miliki masih tersisa sedikit. Namun tetap saja kondisi pangan yang ada sangat mencemaskan. Kupandangi Dimas yang termenung. Muka gagahnyan memucat. Dimas mengerenyitkan dahinya, sepertinya ia juga berpikir sama denganku.

”Kawan-kawan, mengingat sisa jatah kue yang kita miliki kemungkinan hanya cukup untuk dua hari saja, sedangkan kita masih berada di tengah-tengah luasnya laut Jawa. Bagaimana jika kita menganut cara bertahan hidup ala bajak laut? Peraturannya adalah, setiap kepala hanya dapat jatah satu kue untuk satu hari. Jika ada yang berbuat kecurangan, maka ia akan kita buang ke laut bersama.Kalian setuju?” Ucap Dimas yang berseri, idenya cemerlang. Kami beruntung memiliki Dimas yang berpengalaman banyak di laut. Bahasa tubuh kita menyetujui peraturan yang Dimas katakan.

Kita semua memakan jatah sisa kue masing-masing. Aku menghampiri Indra yang khusyuk berdoa itu, kuberikan jatah kuenya. Lalu aku ikut berdoa di sampingnya, ya walau kita berbeda keyakinan.
Bapak... Ibu... Jika saja kalian ada di sini, mungkin Gustav akan menjadi jauh lebih kuat. Aku menyesali perbuatan ku yang semena-mena. Aku memang anak durhaka, selalu membantah omongan kalian. Aku tidak mensyukuri nikmat Allah. Kini aku sadar mengapa ibu selalu membentakku kalau makanku tak habis. Bahkan kalian berselisih hebat karenanya. Jika aku lebih baik mati, sungguh aku akan membiarkan diriku mati. Dan jika semua itu dapat menebus dosa-dosaku. Maafkan aku ya Allah, maafkan segala dosa-dosaku.

Sebuah keajaiban, kapal SAR muncul. Allah mendengar do’aku. Doa kita semua yang terperangkap di atas perahu ini. Kami dimintai keterangan mengenai tempat tujuan masing-masing. Kemudian kelompok SAR itu membawa kami pergi ke Tanjung Perak. Tak dapat kubayangkan dahsyatnya musibah yang melanda kapal kemarin hari. Badanku lemas, sepuluh hari terombang-ambing di atas perahu. Pandanganku gelap seketika.

”Lik?” suara medok bapak menyadarkanku. Tangan keriput nan halus membelai pipku lembut. Hangat.
”Aku di mana? Uh..” Kepalaku terasa sangat pusing. Kupegangi kepalaku ini.
”Wah…Mas Gustav sudah sadar?!” seorang gadis berteriak gembira sambil memeluk tubuhku erat. Ajeng. Kini ia sudah dewasa dan tumbuh menjadi gadis yang cantik. Namun paras cantiknya tak menutup kemungkinanku untuk lupa akan paras adik yang kurindukan. Ku balas mesra pelukan adikku tersayang ini.

”Nak, kami merindukanmu. Dokter mengatakan kondisi ibu mulai pulih kembali. Sepuluh hari kami menunggumu di sini. Maaf, salah ibu kamu jadi terjebak dalam musibah yang terjadi di kapal beberapa minggu yang lalu. Selamat datang kembali di Bangunrejo.” Sekarang ibu yang gantian memelukku, sangat erat. Air matanya menetes, seakan takut kehilanganku, takut jika aku pergi lagi. Aku tak kuasa untuk menahan air mata yang membendung di mataku ini. Akhirnya setelah sekian lama aku dapat bertemu dengan mereka lagi. Dua bidadari yang sangat kurindukan. Jika ini mimpi, aku tidak akan mau terjaga.

”Lik, maafkan bapak yang terlalu keras kepala. Sebelumnya, bapak ucapkan selamat atas kelulusanmu. Prestasimu sangat membanggakan. Kautelah menjadi sarjana cum laude. Itu baru anak bapak...” Bapak menepok pundaku dengan wajah bangga.
”Pak, Bu.. Gustav sangat bahagia, kita dapat berkumpul kembali di sini. Walaupun dalam moment yang kurang pas. Tetapi apakah kita bisa seperti ini terus? Selamanya?”
Ajeng menganggukan kepala berusaha mendorong bapak dan ibu untuk berkata iya. Senyum pucatku memelas. Mimik kedua orangtuaku berubah seketika. Suasana menjadi hening.
”Begini, Lik. Sebenarnya.. kami telah membicarakan hal ini sebelumnya. Bapak akan pensiun, dan lebih baik jika menghabiskan masa tua bapak bersama ibu, di Bangunrejo.”
Ajeng melompat kegirangan. Kini air mata yang kubendung benar-benar tak dapat ku tahan. Aku menangis. Menangis bahagia.

Kondisiku sudah kembali pulih, aku menduduki posisi sebagai seorang konsuler di Tokyo. Dan aku mulai menjalani karirku. Sedangkan Ajeng telah menjadi mahasiswi, ia tidak hanya pintar, tetapi juga mandiri dan berani. Melanjutkan pendidikannya di UGM, Jogja. Sedangkan bapak dan ibu, mereka kini bersatu kembali. Layaknya keluarga pasngan muda yang kulihat di kapal kemarin dulu. Keluarga kami sangat bahagia. Banyak hikmah yang dapat kupetik dari suatu kisah yang pahit. Dan aku percaya bahwa setiap kisah memiliki akhir yang bahagia. Jika kehidupan ku ini adalah cerita, maka ia akan berakhir sampai di sini. Sebenarnya dalam kehidupan nyata, ini adalah gerbang untuk meraih masa depan. Menggapai mimpi yang tidak pernah kau bayangkan dapat menjadi kenyataan. Itulah hidup yang sesungguhnya.

0 comments:

voila!

Flag Counter

free counters